Home > curhat, pengalaman > Pengalaman tes pasca sarjana ITB

Pengalaman tes pasca sarjana ITB

itb         Oh iya saya angkatan 2009 dan lulus secara resmi menjadi sarjana di SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL Bandung di bulan desember 2013. Berbekal restu orang tua dan kemauan belajar yang masih sangat tinggi saya hendak melanjutkan studi saya. Pilihan akhirnya jatuh ke salah satu universitas di Indonesia tepatnya kampus dengan lambing gajah. Ya itu lah kampus ITB. Salah satu tahapan yang harus saya lewati adalah tes logika dasar matematika. Mendengarnya saja sudah bikin deg degan, waduh dites matematika juga. Sudah hampir 4 tahun saya tidak berhubungan dengan matematika model SMA atau bahkan SNMPTN. Selama kuliah hanya memakai beberapa ilmu matematika yang berhubungan dengan jurusan saya yaitu teknik tekstil.

Saya berdoa saja semoga soal yang nanti diujikan tidak terlalu susah dan tidak sama persis dengan SNMPTN. Saya harap soal yang keluar benar-benar dasar matematika. Yang saya bayangkan adalah soal-soal aritmatika seperti menghitung persen, deret, suku banyak sederhana, dan bab bab yang kita tidak perlu ingat rumusnya. Mirip soal matematika CPNS lah saya kira. Jika yang keluar soal jenis tersebut, saya tidak terlalu hawatir karena tidak terlalu banyak rumus dan masih tergolong bisa dipakai menggunakan logika untuk menjawabnya. Berdasarkan namanya matematika dasar, ya sudah saya tidak perlu mempelajari lagi.

Dan tanggal ujian pun tiba, hari itu kalo tidak salah tanggal 20 juni 2014. Ternyata banyak juga yang hendak ujian pasca sarjana, oh iya saya mengambil jurusan teknik industry. Dan yang mengikuti ujian mayoritas masih seumuran sama saya. Hmmm sekarang s2 sudah bukan barang baru lagi ya, kalopun masuk berarti usia tidak berbeda jauh dan tentunya masih enak buat jadi temen kuliah dan teman main bareng. Hhe

Pukul 8 tes dimulai, soalpun dibagikan oleh panitia. Sebelum memulai dan membuka soal, panitia memberikan tata tertib peserta dan format menjawab. Saya terkejut, ketika saya mendapati peraturan yang mirip SNMPTN. Jawaban benar bernilai 4 dan salah minus 1. Waduuuh, saya curiga berarti ini soalnya bakal mirip SNMPTN. Panitia mempersilahkan kita membuka dan menjawab soal. Setelah membuka soal, saya tersenyum dan nyengir kuda. Hahaha soalnya bukan seperti soal matematika cpns. Ini soalnya beneran matematika. Soal pertama langsung disapa dengan soal trigonometri, beruntung saya masih ingat dengan singkatan-singkatan yang dulu saya pakai seperti sindemi, cosami, dan tandesa. Berkat mengingat jembatan keledai tersebut, saya berhasil menjawab soal tersebut. Haha selamaaaat.

 

Dan penderitaan tidak berhenti di situ. Berturut-turut saya bertemu dengan soal bab integral, matriks, limit, garis singgung, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, vector, sudut, bangun ruang, dan sebangsanya. Wuaaaaaaah ampuuuuun. Saya bekerja keras untuk mengingat rumus-rumus trigonometri, penjumlahan vector, determinan, transpose, invers, lingkaran, dan nilai maksimum dan minimum pada grafik. Waktu berlalu 60 menit dan saya harus mengakhiri menjawab sesi ini. Saya Cuma bisa menjawab 10 soal dari 20 soal. Hahaha itupun sudah bekerja keras mengingat ingat rumus yang pernah saya hafal 4 tahun lalu. 5 soal saya jawab lagi dengan tidak begitu yakin, karena saya takut dengan nilai minusnya. Ya 15 soal lumayan lah tinggal berdoa saja.

Lalu lanjut di sesi 2 adalah bab aritmatika soal cerita. Sama seperti soal sesi 1, Cuma berbeda dengan disajikan denga soal cerita. Puyeng lagi deeeeeh. Sejam berlalu dan masuk ke sesi terakhir adalah sesi mengarang dengan bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Jujur saya kaget dengan tes ini, karena tidak ada dalam agenda ujian tiba tiba kita dibagikan data grafik dan kita diminta membuat narasi dengan bahasa inggris dan bahasa Indonesia dengan alokasi waktu hanya 30 menit. Buseeeet grafik seabrek dan kita diminta bikin narasi bilingual Cuma dengan waktu 30 menit. Sungguh bingung mau nulis apa. Hahaha. Dengan fisik dan otak yang sudah lelah saya mengarang bebas, hha entahlah isinya nyambung atau tidak dengan grafik yang disajikan tapi saya tetap berusaha menulis. Dan waktupun selesai pada pukul 11.

Kami keluar ruangan ujian dan berbincang dengan peserta lain. Berbagai cerita muncul, ada yang bilang tesnya gampang dan sebagian lagi sepakat lupa dengan rumus-rumus tersebut hahaha. Saya sih yakin yakin saya bisa mengerjakan soal tersebut jika belajar terlebih dahulu. Dan yakin bisa mengerjakanjika saya dites 4 tahun yang lalu disaat masih fresh lulus SMA. Hhe.

Apa mau dikata, ini salah saya sendiri yang tidak mempersiapkan dengan baik ujian matematika ini. Jangan ditiru yang tidak baiknya ya, ini hanya share pengalaman. Jika kamu yang baca artikel ini dan hendak mengikuti seleksi pasca sarjana ITB, saya sarankan baca lagi materi matematika SMA dan belajar dengan baik. Jangan seperti saya yang nyengir kuda gara-gara tidak berhasil mengeluarkan rumus determinan dan transpose matrik dari dalam otak yang sudah terkubur sangat dalam. Hahaha

May the best result will be mine..

 

wassalam

Categories: curhat, pengalaman
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: